Di sebuah sudut Desa Jatiranggon, wilayah selatan Kota Bekasi yang berbatasan langsung dengan Jakarta Timur, pernah tumbuh kegelisahan yang mendalam di hati para tokoh masyarakat dan umat Islam. Pada masa itu, keterbatasan ekonomi memaksa banyak anak-anak Muslim mengenyam pendidikan di lembaga non-Islam yang menawarkan sekolah gratis. Kekhawatiran akan masa depan generasi Islam pun tak terelakkan.
Dari kegelisahan itulah lahir sebuah tekad: harus ada lembaga pendidikan Islam yang mampu melindungi akidah, menanamkan ilmu, dan menjadi tempat bernaung bagi anak-anak umat—tanpa memandang kemampuan ekonomi. Tekad itu bukan sekadar wacana, melainkan panggilan perjuangan.
Dengan izin Allah SWT, pada 1 Januari 1974, di tengah segala keterbatasan pengetahuan, fasilitas, dan dana, berdirilah Madrasah Diniyah Al-Ishlah. Madrasah ini berada di bawah tanggung jawab Bapak H.M. Encep, Wakil Kepala Desa Jatiranggon saat itu, bersama para pendidik yang memiliki semangat pengabdian luar biasa. Pada awal berdirinya, madrasah ini telah menampung 110 siswa, dilayani oleh dua orang guru dan seorang kepala sekolah, sebuah angka yang mencerminkan besarnya harapan masyarakat.
Namun, perjalanan Madrasah Al-Ishlah bukanlah jalan yang mudah. Jumlah siswa kerap naik turun, bahkan sempat menyusut hingga titik terendah. Bangunan madrasah sangat sederhana—berdinding bilik bambu, berdiri di atas tanah wakaf yang terbatas, sebagian di antaranya digunakan sebagai makam keluarga. Dalam kondisi demikian, madrasah tetap berdiri, bertahan, dan menolak menyerah.
Ketika lahan tak lagi mencukupi, tangan-tangan masyarakat pun bersatu. Dengan gotong royong dan keikhlasan, dilakukan penggalangan dana untuk membeli tanah tambahan demi masa depan pendidikan anak-anak mereka. Inilah bukti bahwa Madrasah Al-Ishlah lahir dan tumbuh dari denyut nadi umat.
Pengabdian para guru menjadi kisah tersendiri yang tak lekang oleh waktu. Honor yang diterima sering kali tidak berupa uang, melainkan beras—hanya satu atau dua liter per bulan. Namun keterbatasan itu tidak pernah memadamkan semangat mereka. Mereka mengajar bukan karena upah, melainkan karena keyakinan bahwa mendidik adalah ibadah dan perjuangan di jalan Allah.
Perlahan namun pasti, kepercayaan masyarakat mulai tumbuh. Prestasi para lulusan menjadi bukti nyata bahwa madrasah kecil ini mampu melahirkan generasi yang berilmu dan berakhlak. Jumlah siswa kembali meningkat, dan Madrasah Al-Ishlah mulai menapaki babak baru dalam perjalanannya.
Kesadaran akan pentingnya kesinambungan pendidikan mendorong Yayasan Al-Ishlah untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah Al-Ishlah pada tahun 1977, sebagai upaya memberi ruang bagi lulusan madrasah untuk melanjutkan pendidikan. Meski MTs Al-Ishlah hanya bertahan hingga meluluskan satu angkatan, langkah tersebut menjadi bukti visi jauh ke depan dari para perintis.
Titik balik penting terjadi pada awal 1980-an. Dengan pengelolaan yang semakin tertata, kedisiplinan yang diperkuat, serta pendekatan kekeluargaan kepada siswa dan orang tua, Madrasah Al-Ishlah mulai menunjukkan jati dirinya. Guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga hadir dalam kehidupan siswa—menjenguk yang sakit, mengunjungi rumah yang absen, dan memastikan tak satu pun anak terabaikan.
Pada tahun pelajaran 1987/1988, sebuah keputusan besar diambil: Madrasah Al-Ishlah membuka kelas pagi. Dengan langkah sederhana namun penuh keyakinan, para guru mendatangi rumah-rumah warga, mengetuk pintu demi pintu, mengajak masyarakat mempercayakan pendidikan anak-anaknya kepada madrasah. Di luar dugaan, respon masyarakat sangat luar biasa. Pendaftar membludak, kelas pun dibuka lebih dari yang direncanakan.
Kepercayaan itu semakin menguat ketika pada 16 Agustus 1988, para siswa menunjukkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung di hadapan para wali murid. Dalam waktu singkat, anak-anak yang dahulu diragukan, kini tampil membanggakan. Sejak saat itu, Madrasah Al-Ishlah tidak lagi dipandang sebelah mata.
Seiring bertambahnya jumlah siswa, ruang kelas diperluas, fasilitas ditambah, dan semangat kebersamaan semakin menguat. Puncak dari perjalanan panjang ini akhirnya tercapai pada tahun 1991, ketika Madrasah Diniyah Al-Ishlah secara resmi bertransformasi menjadi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Ishlah, dengan sistem pembelajaran pagi hari.
Hari ini, MI Al-Ishlah berdiri sebagai saksi perjuangan, ketulusan, dan keikhlasan para pendiri, guru, dan masyarakat. Ia bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan warisan perjuangan umat, yang terus menyalakan cahaya ilmu dan iman bagi generasi masa depan.
